Kamis, 17 Desember 2009

Pendakian Ini



Ku melangkah menyusuri lembah-lembah kehidupan,
bertumpu pada kaki mungil ini yang tak tahu arah tujuan,
di sana tak kutemukan apapun kecuali hamparan pohon-pohon yang menjulang tinggi, menutupi sinar mentari
Aku menanyakan pada diriku sendiri, sebenarnya kemanakah kaki kecilku ini melangkah?
Jalan setapak hadir menemani setiap pijakanku ke bumi
Hingga sampai pada jalan yang bercabang
Jalan yang satu menurun dan tampak indah,
Dengan di kanan kirinya diselingi bunga-bunga setaman yang baunya sudah tercium dari tempatku berdiri sekarang
Jalan yang lain sangat terjal dan menanjak, pun juga diselingi bunga setaman, tapi dalam setiap tangkai terdapat duri-duri yang tajam
Hatiku gundah, jalan mana yang aku pilih?
Mau tak mau, aku harus memilih salah satu dari jalan ini
Akhirnya aku mantapkan hati
Dan jalan yang aku pilih adalah jalan yang menanjak dan terjal
Dan mudah-mudahan, di sanalah aku menemukan tujuanku,
Sebuah taman yang indah, tempat peristirahatanku yang terakhir
Pikirku,
Jalan terjal dan menanjak ini akan mengajarkanku tentang kehidupan
Belajar untuk tidak takut
Tidak mudah putus asa,
Dan tetap teguh,
Sabar untuk menapaki setiap langkah dalam hidupku...




dari buku Who Am I, buku kecil penuh inspirasi.

Sabtu, 22 November 2008

ANGKATAN PERTAMA, ANGKATAN PENUH KEIKHLASAN DAN RELA BERKORBAN

Akreditasi. Siapa yang tahu arti penting akreditasi? Yang aku tahu, jika akreditasi menelorkan hurf B, bahkan A, maka itu berarti bahwa akan ada manusia yang berbondong-bondong masuk ke dalamnya. Nggak peduli apa jurusannya, nggak peduli nanti bakalan jadi apa. Yang penting adalah gengsi. Masalah biaya, itu urusan belakangan. Masih banyak jalan menuju Roma, masih banyak orang kaya yang bisa ngutangin. Asal bisa kuliah. Biar gak malu diliat ama tetangga.

Syarat akreditasi, ntu kampus harus punya lulusan dulu. Lha truz gimana nasib yang jadi kelinci percobaannya? Siapa yang mau? Pinternya, kampus punya akal. Memanfaatkan kepuyengan camaba-camaba yang lagi pusing cari kampus. Tau-tau.. ya gitu deh. Inilah kami, siap dijadikan penentu. Apakah jurusan ini akan diteruskan atau atau tidak. Sementara yang lain udah KBM, kami masih wara-wiri ngurus KRS. Dosennya belum punya, dan kami cuma terdiri dari satu kelas. Jadi anak tiri waktu OSPEK.

Inilah kami, siap pakai. Siap jadi pahlawan akreditasi. Siap menerima pandangan yang rada mengenyek, "Ooo..yang jurusan baru itu yaa..?"

Sabaaar.. Ikhlas...

Sabtu, 06 September 2008

OSPEK: WARISAN atau UNDANG-UNDANG?

Cepetan dek!

Ngapain masih berdiri di situ?

Lelet!

Tiga kalimat di atas plus nadanya udah nggak asing lagi deh di dunia per-ospek-an. Mata melotot, bibir maju tak gentar sekitar 1,5 inch dimix ama seringai, tangan kiri berkacak pinggang, en tangan kanan tunjuk sana tunjuk sini (kalau perlu.. tonjok!). Udah mirip wayang Burisrawa. Nggak cewek, nggak cowok, kalo udah jadi PK alias Pemandu Kedisiplinan pasti gayanya cuma satu. Ya seperti Burisrawa itu tadi (kaya’ ga punya inovasi aja, he he).

Rata-rata ospek jadi momok bagi setiap mahasiswa baru. Sebenernya ospek itu apaan sih? Orientasi studi pengenalan kampus. Yee… kalo itu sih anak SD aja tau. Maknanya dong, maknanya..

Tujuan utama yang pertama adalah mengenalkan seluk beluk dunia perkuliahan pada mahasiswa baru. Tentang kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, tentang aturan perkuliahan, tata ruang, de el el. Juga mengenalkan maba pada para mahasiswa senior dan para dosen.

Lantas apa itu semua ada hubungannya dengan acara getak-menggetak? Sama sekali nggak khan? Lagipula, apa ospek yang selama ini diadain udah punya undang-undang sendiri? Atau cuma sekedar warisan alias tradisi saja? Perasaan belum ada deh UU yang bunyinya kaya’ gini: “UU No. … Tahun… tentang Ospek bagi Setiap Mahasiswa Baru. Menetapkan bahwa: Setiap mahasiswa baru yang akan mengikuti studi di Universitas … diwajibkan datang pukul 05.30 tepat, dengan rambut berkucir lima, dan berdandan semirip mungkin dengan orang gila.” Wakakakaak…. (ngapunteeen…).

Sesuatu tanpa dasar pijakan yang jelas bisa jadi sekarep-karep alias sak-enjoy-e, ngalamat akan adanya ketidakteraturan.

Kembali pada urusan getak-menggetak. Bukannya getak-menggetak itu malah ngerugiin? Pertama, bagi mabanya. Kasian kan ama maba yang punya penyakit jantung koroner, langsung wassalam kan berabe tuh. Perilaku kaya’ gitu juga bisa memperlebar kemungkinan timbulnya dendam kesumat lhow. Kedua, bagi Sang Penggetak. Nggak kasian tuh sama pita suaranya? Tuh pita nggak ada yang jual, Mas, Mbak. Nggak kaya’ pita merah putih yang harganya Rp 800,00 per meternya.

Kalaupun getakan-getakan/ teriakan-teriakan itu dimaksudkan untuk kedisiplinan, apa disiplin lantas berdiri tegak karena ‘kekerasan mini’ seperti itu?

Bicara tentang Islam, agama itu juga merupakan sebuah kedisiplinan. Tapi pernahkah temen-temen mendengar Allah berteriak? Kalau iya, ni dunia pasti dah kiamat dari dulu deh. Iya, Allah tak pernah mengandalkan teriakan-teriakan, apalagi kekerasan. Bahkan Ia sendiri punya nama Al-Latiif, yang artinya Yang Maha Lembut. Kecuali kalo emang manusianya yang biadab alias nggak beradab, maka barulah datang azab. Tapi apa lupa nggak bawa selembar koran bekas bisa disejajarkan sama mutilasi case-nya Rian?

Sebuah batu, jika dipukulkan ke sesama batu pasti bisa langsung pecah berantakan. Keras sama keras. Tapi kalo batu yang diguyur air, maka lama kelamaan si batu pasti akan luluh juga. Seperti itu juga dengan penegakan kedisiplinan. Seharusnya yang dikenai itu hatinya, bukan hanya telinga atau fisiknya saja.

Lama kelamaan

Kekerasan, teriak-teriak = telinga/ jasmani = disiplin = disiplin luntur

Lama kelamaan

Lemah lembut = hati = disiplin = disiplin 4ever

Kurang lebih seperti itulah gambarannya. Lalu kira-kira kapan ya sejarah ospek kan berakhir?

Suatu saat nanti.

Jika negeri ini sudah memberlakukan EQ dan SQ sebagai parameter diterima-tidaknya seseorang di sebuah lembaga pendidikan. Bukan hanya IQ saja. Betul?

Jadi… nggak ada lagi yang namanya acara tunjuk STNK sepulang ospek. Karena mabanya dijamin zuzur 100%.

Betul?

Djogja, 5 September 2008